Kamis, 22 April 2010
Rabu, 21 April 2010
STRATEGI CITY BRANDING UNTUK MERAIH POSITIONING
CITY BRANDING UNTUK PEMDA: PERLUKAH ?
Pernah dengar "Uniquely Singapore", “Malaysia Truly Asia” atau “Yogya Never Ending Asia” ? Saya yakin kita pasti pernah mendengarnya, atau bahkan mengingatnya.
Ya, itu adalah salah satu strategi suatu wilayah seperti Negara, Provinsi, Kabupaten, atau Kota untuk memiliki positioning yang kuat dan dapat dikenal secara luas di seluruh dunia. Upaya ini yang disebut sebagai City Branding.

Dalam dunia bisnis, Brand atau merk sangat menentukan keberhasilan suatu perusahaan. Makanya banyak perusahaan mengalokasikan anggaran yang sangat besar untuk dapat mempromosikan brand-nya ke masyarakat luas. Dengan kata lain agar brand-nya dapat menjadi Brand Equity.
Di sektor publik, diakui atau tidak, dengan penerapan otonomi daerah dan semakin nyata serta meluasnya trend globalisasi saat ini, daerah pun harus saling berebut satu sama lain dalam hal:
- Perhatian (attention)
- Pengaruh (influence)
- Pasar (market)
- Tujuan Bisnis & Investasi (business & investment destination)
- Turis (tourist)
- Tempat tinggal penduduk (residents)
- Orang-orang berbakat (talents), dan
- Pelaksanaan kegiatan (events)
Oleh karena itu sebuah daerah membutuhkan Brand yang kuat. Secara definisi, City Brand adalah indentitas, symbol, logo, atau merk yang melekat pada suatu daerah.
Sebuah pemda harus membangun Brand (brand building) untuk daerahnya, tentu yang sesuai dengan potensi maupun positioning yang menjadi target daerah tersebut.

Banyak keuntungan yang akan diperoleh jika suatu daerah melakukan City Branding, antara lain:
1. Daerah tersebut dikenal luas (high awareness), disertai dengan persepsi yang baik
2. Dianggap sesuai untuk tujuan-tujuan khusus (specific purposes)
3. Dianggap tepat untuk tempat investasi, tujuan wisata, tujuan tempat tinggal, dan penyelenggaraan kegiatan-kegiatan (events)
4. Dipersepsikan sebagai tempat dengan kemakmuran dan keamanan yang tinggi
LANGKAH-LANGKAH MEMBUAT CITY BRANDING YANG KUAT
Brand atau merk yang legendaris dan mampu bertahun puluhan bahkan ratusan tahun, tidak muncul begitu saja. Tetapi mereka melakukan langkah-langkah yang terencana, jelas, dan berbeda dengan para pesaingnya.
Demikian juga agar mempunyai Brand yang kuat, sebuah daerah harus memiliki karakteristik khusus yang bisa dijelaskan dan diidentifikasikan. Misalnya tampak fisik kota, pengalaman orang terhadap daerah tersebut, dan penduduk seperti apa yang tinggal di daerah tersebut.
Langkah-langkah utama dalam membangun City Branding yang kuat adalah sebagai berikut:

Mapping Survey; meliputi survey persepsi dan ekspektasi tentang suatu daerah baik dari masyarakat daerah itu sendiri maupun pihak-pihak luar yang mempunyai keterkaitan dengan daerah itu.
Competitive Analysis; melakukan analisis daya saing baik di level makro maupun mikro daerah itu sendiri.
Blueprint; penyusunan cetak biru atau grand design daerah yang diinginkan, baik logo, semboyan, ”nick names”, ”tag line”, da lain sebagainya beserta strategi branding dan strategi komunikasinya.
Implementation; pelaksanaan grand design dalam berbagai bentuk media, seperti pembuatan media center, pembuatan events, iklan, dan lain sebagainya.
Beberapa contoh kota di dunia yang dianggap memiliki City Brand yang kuat adalah New York, Paris, dan San Francisco. Mengapa kota-kota tersebut dianggap memiliki City Brand yang kuat ? Karena kota-kota itu memiliki kualifikasi yang harus dimiliki oleh suatu brand yang kuat, yaitu mempunyai sejarah, kualitas tempat, gaya hidup, budaya, dan keragaman yang menarik dan bisa dipasarkan.
Kesimpulannya, pemda-pemda di Indonesia, baik level provinsi, kabupaten, atau kota perlu melakukan City Branding, agar daerahnya bisa makin dikenal, sehingga diharapkan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakatnya makin meningkat.
Bagaimana pak Gubernur, pak Bupati, dan pak Walikota ? Segeralah take action !
SOLO MENARI
Solo Menari
DASAR PEMIKIRAN
Keberadaan dunia tari pada era global sekarang ini bukan saja milik etnis tertentu, tetapi sudah merupakan bagian masyarakat di dunia. Oleh karenanya kehidupan tari juga menjadi tanggung jawab bersama, tak terkecuali masyarakat kota Solo, Pemkot dan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta
Keberadaan dunia tari pada era global sekarang ini bukan saja milik etnis tertentu, tetapi sudah merupakan bagian masyarakat di dunia. Oleh karenanya kehidupan tari juga menjadi tanggung jawab bersama, tak terkecuali masyarakat kota Solo, Pemkot dan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta
Tari merupakan ekspresi jati diri bangsa, sumber kreativitas dan merupakan heritage yang harus dilestarikan dan dikembangkan agar tidak terkikis oleh modernitas.
Kesadaran akan kekuatan jati diri sebagai basic fundamental akan membawa eksplorasi dan ekspresi menuju sajian dan kekaryaan yang memiliki tafsir dan makna mengkini
TARI
Program UNESCO bahwa tari akan dapat berfungsi untuk melawan bias-bias segala diskriminasi yang terus mengancam keutuhan. Tari bukan hanya sebagai bahan eksebisi atau ekstrimitas Fisikal, dramatisasi dari keadaan; tetapi menjadi tempat untuk merayakan ragam perbedaan antar sesama umat manusia. Selain itu "tari" merupakan salah satu pilar terakhir yang masih menjadi kebanggaan bangsa di tingkat regional, nasional, maupun tingkat internasional, oleh karenanya harus kita pertahankan secara maksimal
Program UNESCO bahwa tari akan dapat berfungsi untuk melawan bias-bias segala diskriminasi yang terus mengancam keutuhan. Tari bukan hanya sebagai bahan eksebisi atau ekstrimitas Fisikal, dramatisasi dari keadaan; tetapi menjadi tempat untuk merayakan ragam perbedaan antar sesama umat manusia. Selain itu "tari" merupakan salah satu pilar terakhir yang masih menjadi kebanggaan bangsa di tingkat regional, nasional, maupun tingkat internasional, oleh karenanya harus kita pertahankan secara maksimal
KEGIATAN
1. Solo Menari (Seluruh warga Kota Solo, Yang Muda Yang Menari)
2. Membangun identitas “Hari Tari” dengan mengenakan atribut tari, pada hari tari.
3. Gelar Tari 24 jam
4. Menari 24 jam
5. Orasi Tari
1. Solo Menari (Seluruh warga Kota Solo, Yang Muda Yang Menari)
2. Membangun identitas “Hari Tari” dengan mengenakan atribut tari, pada hari tari.
3. Gelar Tari 24 jam
4. Menari 24 jam
5. Orasi Tari
WAKTU DAN TEMPAT
World Dance Day tahun 2010 kegiatan akan dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 29 April 2010. Kegiatan dilaksanakan di Slamet Riyadi, 4 titik Panggung 1. Solo Square, 2. Loby Kantor PLN Surakarta, 3. Joglo Sriwedari dan 4, di Balai Kota Surakarta
Kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Jl Ki Hadjar Dewantara 19, Kentingan, Jebres, Surakarta.
World Dance Day tahun 2010 kegiatan akan dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 29 April 2010. Kegiatan dilaksanakan di Slamet Riyadi, 4 titik Panggung 1. Solo Square, 2. Loby Kantor PLN Surakarta, 3. Joglo Sriwedari dan 4, di Balai Kota Surakarta
Kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Jl Ki Hadjar Dewantara 19, Kentingan, Jebres, Surakarta.
STAGE
Pada masing-masing Panggung akan disiapkan
1. Panggung 9 X 6
2. Property panggung
3. Sound Sytem
4. Gamelan
Pada masing-masing Panggung akan disiapkan
1. Panggung 9 X 6
2. Property panggung
3. Sound Sytem
4. Gamelan
PESERTA
Dari kota Solo:
SMA Batik I, SMK N 8, Sorya Sumirat, Sriwedari, Remaja Sriwedari, RRI, Sarwi Budaya, Meta Budaya, Padmo Susastran, Independen Ekspresi, Studio Taksu, Jurusan Tari, Jurusan Pedalangan, Jurusan Etnomusikologi ISI Surakarta, MGMP Seni Tari SMP dan SMA, Barongsay, SMA-SMA di kota Solo, Keraton Kasunanan, Pura Mangkunegaran.
Dari Luar Kota Solo;
Perguruan Tinggi Seni di Indonesia, ISI Yogyakarta, STSI Bandung, ISI Bali, STKW Surabaya, Unesa Surabaya, UPI Bandung, ITB Bandung, UNDIP Semarang, Keraton Kasultanan, Pura Pakualaman,Ponorogo, Tulungagung, Pacitan, Jawa Timur, Wonosobo, Bali, Banyumas, Tegal, Salatiga, Aceh, Kalimantan, Jayapura.
Luar Negeri;
Malaysia, Singapura,
Orasi Tari;
Eros Jarot dan Sardono W Kusumo.
Event besar World Dance Day tahun 2010, akan digelar pertunjukan tari selama 24 jam (dua puluh empat jam). Dimulai pukul 07.00 (Kamis pagi 29 April) dan akan berakhir pukul 07.00 hari berikutnya (Jum’at, 30 April 2010).
Minggu, 18 April 2010
GAYA HIDUP.
- 12 April 2004
Vegan, Meraih Daya Hidup
Tresiaty Pohe gesit seperti bola bekel. Perempuan ini juga tampil bercahaya dengan tubuh langsing dan kulit kencang. Padahal, "Ssst..., umur saya sudah hampir 60 tahun, lo," kata nenek tujuh cucu ini.
Layaknya iklan baterai yang terus bertenaga, aktivitas Tresiaty sebagai dokter bedah plastik di Rumah Sakit Siloam, Tangerang, tak pernah kendur. Mengobati pasien, menyelenggarakan seminar, kegiatan gereja, dia lakoni dari pagi sampai jauh malam. "Berdiri 10 jam nonstop untuk operasi besar juga enteng saja," katanya saat ditemui TEMPO pekan lalu. Saking sibuknya, dua orang asisten Tresiaty mengeluh kerepotan mengikuti padatnya jadwal sang majikan.
Tresiaty membagikan jurus spesial agar tetap bugar. "Jadilah vegan," katanya. Seorang vegan, dia menjelaskan, menjauhi segala macam makanan yang mengandung unsur hewani. Bukan hanya daging, aneka rupa produk turunan hewani?misalnya susu, keju, telur, mentega, krim, yogurt?juga harus diberi ucapan sayonara. Sayur dan buah-buahan, itulah santapan kaum vegan.
Sesungguhnya, semangat kaum vegan serupa dengan vegetarian. Keduanya sama-sama menghargai hewan. Mereka tidak mau kehidupan para hewan?ternak atau bukan?sengaja dimanipulasi dan dirampas untuk dijadikan makanan. Perut manusia toh bukan kuburan tempat bangkai kambing, ayam, sapi, ikan, menumpuk jadi satu.
Bedanya, kaum vegan menghindari semua jenis dairy product dan acara masak-memasak. Buah dan sayur sebisa mungkin disantap dalam kondisi mentah lagi segar. Kalaupun terpaksa dimasak, sayur cukup dikukus atau ditumis ala kadarnya. Aneka zat kimia seperti penyedap, pengawet, pengembang, pewarna, juga dijauhkan dari makanan. Segala langkah ini demi menjaga keutuhan enzim, vitamin, dan nutrisi lain yang ada pada sayur dan buah.
Proses memasak, apalagi penggorengan sampai ratusan derajat Celsius, sudah pasti merusak segala jenis enzim, vitamin, dan protein yang berguna bagi tubuh. Sayur yang telah dimasak pun akhirnya cuma jadi dead food, makanan mati. "Makanan seperti ini cuma mengenyangkan perut tetapi tidak memberikan daya hidup," kata Tresiaty.
Di dunia, istilah vegan sendiri baru dimunculkan oleh Donald Watson, anggota Vegetarian Society di Leicester, Inggris, pada 1944. Kala itu Watson mengajukan proposal pembentukan satu sayap Vegetarian Society yang sama sekali menolak dairy product. Proposal ini ditolak karena dianggap kelewat radikal. Lagi pula, jika manusia semata-mata makan tetumbuhan, para ahli bakal dibuat repot menyusun ulang posisi manusia dalam rantai makanan.
Akhirnya Watson dan kawan-kawan yang sealiran mendirikan The Vegan Society. Aliran ini kemudian menyebar ke berbagai penjuru dunia dengan tokoh panutan seperti Benjamin Zephaniah, penyair, dan Wendy Turner, presenter televisi.
Tidak sekadar berhenti pada pola diet, veganisme memang melebar hingga menjadi gaya hidup yang bernuansa ideologis. Untuk menjadi anggota American Vegan Society, misalnya, seseorang harus memenuhi persyaratan: tak boleh memakai jaket, tas, dan sepatu kulit binatang. Wajib pula menghindari penggunaan sabun, sampo, kosmetik, yang mengandung lemak hewani atau diujicobakan kepada hewan.
Veganisme terus berkembang dalam beragam variasi. Sebagian orang menggunakan keyakinan agama, seperti Hindu dan Advent, sebagai alasan untuk bervegan-ria. Sebagian lainnya menggunakan kesehatan sebagai alasan utama. Kelompok terakhir ini biasanya cuma mengadopsi pola diet vegan yang serba hijau. Tas kulit buaya, sepatu kulit lembu, jaket kulit ular kobra, sayang dong, jika ditinggalkan. Termasuk dalam kelompok ini adalah jajaran selebriti Alicia Silverstone, Lindsay Wagner, Boy George, dan Carl Lewis.
Indonesia juga tidak luput dari kepak sayap vegan. Pada tahun 2000, organisasi The Indonesian Vegan Society (IVS) resmi didirikan. "Kami memang tidak tahu pasti berapa jumlah penganut vegan di Indonesia," tulis Vandayani Dewi, pengelola situs www.i-v-s.org. Belakangan, situs ini diramaikan oleh 1.000 anggota yang sebagian besar adalah ekspatriat atau pelancong mancanegara yang sedang mampir ke Indonesia.
Tresiaty Pohe, tokoh di awal tulisan ini, memang bukan anggota The Indonesian Vegan Society. Namun Tresiaty inilah salah satu aktor penting penyebar gaya hidup vegan di negeri ini. "Saya kampanye vegan karena sudah merasakan sendiri khasiatnya," katanya.
Empat tahun lalu, kondisi Tresiaty jauh dari bugar. Jantung koroner, maag kronis, radang persendian, migrain, hipertensi, adalah deretan keluhannya. Obat gosok dan sekantong obat-obatan selalu menemani ke mana pun dia pergi. Tidak jarang Tresiaty merasakan kesakitan dan kecemasan yang luar biasa. "Seperti mau mati," katanya.
Letih didera aneka penyakit, Tresiaty menjajal diet vegan secara radikal. Hanya sayur dan buah mentah yang dia santap dalam jumlah besar. "Hanya dalam tempo sebulan, semua keluhan lenyap," kata Tresiaty. Tekanan darah meluncur turun ke level normal, pegal linu hilang, pusing menguap. Tubuh jauh lebih bugar. Kantong berisi obat-obatan pun disingkirkan.
Memang, ada efek tak nyaman yang dirasakan pada hari-hari pertama berdiet vegan. Tresiaty, misalnya, mengalami demam, menggigil, dan pusing hebat. Semua ini adalah pertanda keluarnya zat-zat racun (detoksifikasi) yang selama ini mengendap di dalam tubuh. Perlahan-lahan, efek samping menghilang dan tubuh jadi terbiasa dengan sayur dan buah segar. Sekarang, "Saya malah pusing kalau terpaksa menyantap makanan non-vegan," kata Tresiaty.
Berbekal pengalaman pribadi, Tresiaty kemudian mempelajari dengan serius serba-serbi diet vegan. Kemudian, pada 2001, klinik "Diet Center" didirikan Tresiaty di Modernland, Tangerang, yang sepenuhnya bersandar pada metode diet vegan.
Pasien klinik ini juga yang kemudian turut serta mengkampanyekan gaya hidup sayur dan buah. Pendeta Timotius Budiman, misalnya, berdiet vegan sejak setengah tahun lalu. "Berat badan saya turun dari 99 menjadi 85 kilo," katanya bangga. Budiman juga lepas dari obat-obatan pereda hipertensi, diabetes, dan pusing, yang selama bertahun-tahun dia konsumsi. Sukses ini membuat Budiman bersemangat menularkan veganisme kepada jemaat gereja serta kawan-kerabatnya.
Selain membuka klinik, Tresiaty juga rutin menggelar seminar tentang veganisme. Pekan lalu seminar digelar di Hotel Mercure Rekso, Jakarta, dan dihadiri 500-an peserta. Rani, seorang ibu rumah tangga peserta seminar, tertarik ingin hidup sehat ala vegan. Hanya, agak repot jika dia mesti menganut gaya hidup vegan secara menyeluruh. "Saya pilih jadi fleksitarian dulu, deh," katanya sambil tersenyum, "Fleksibel aja."
Sebisa mungkin, Rani berjanji akan menerapkan veganisme dengan aneka jus jambu-tomat-wortel-semangka-sawi-bayam. Tapi, bolehlah sekali-sekali membelot. Katanya jujur, "Mana bisa tahan kalau ada kawan yang nraktir sate kambing yang mak nyus?"
Mardiyah Chamim
Selasa, 06 April 2010
Sabtu, 03 April 2010
HALAL BI HALAL DISKOMINFO KOTA SURAKARTA 2009
Berkumpul bersama teman teman kantor,dalam rangka acara halal bi halal untuk saling memberikan maaf,dan juga sebagai ajang merajut kerukunan
Kamis, 01 April 2010
Langganan:
Postingan (Atom)


