Anggaran Pendapatan Daerah Kota Surakarta
Realisasi Tahun 2008, Penetapan Tahun 2009 dan Prediksi Tahun 2010
No Uraian 2008 r (%) 2009*) r (%) 2010**) r (%)
A Pendapatan 751.267.161.957 24,91 772.783.645.960 2,86 728.459.586.000 -5,74
1 Pendapatan Asli Daerah 102.989.919.369 15,16 106.759.419.000 3,66 117.435.360.000 10,00
a. Pajak Daerah 46.855.622.021 13,17 49.725.000.000 6,12
b. Retribusi Daerah 39.447.439.832 18,25 37.483.907.000 -4,98
c. Jumlah Hasil Perusahaan Milik
Daerah dan Hasil Pengrl. Kekada
4.067.242.953 10,42 4.548.805.000 11,84
d. Penerimaan Lain-lain PAD Yang Sah 12.619.614.563 14,89 15.001.707.000 18,88
2 Dana Perimbangan 513.400.412.439 13,77 532.489.566.960 3,72 547.489.566.000 2,82
a. Bagi Hasil Pajak/Bagi Hasil Bukan
Pajak
61.481.691.439 20,84 58.253.756.960 -5,25
b. Jumlah Pos Dana Alokasi Umum 420.911.721.000 12,39 435.470.810.000 3,46
c. Jumlah Pos Dana Alokasi Khusus 31.007.000.000 19,72 38.765.000.000 25,02
3 Lain-lain Pendapatan yang sah 134.876.830.149 122,13 133.534.660.000 -1,00 63.534.660.000 -52,42
a. Pendapatan Hibah 38.968.500.000 -100,00
b. Dana Bagi Hasil Pajak dari Provinsi 47.211.139.965 20,20 40.618.883.000 -13,96
c. Bantuan Keuangan Provinsi 36.095.637.400 268,40 77.921.677.000 115,88
d. Dana Penyesuaian Otonomi Khusus 12.601.552.784 8,23 14.994.100.000 18,99
B Belanja Daerah 760.080.852.467 29,20 842.537.656.325 10,85 744.962.644.000 -11,58
1 Belanja Tidak Langsung 436.138.529.466 29,81 491.285.386.000 12,64 492.091.783.000 0,16
a. Belanja Pegawai 368.453.136.387 28,90 399.963.783.000 8,55 432.545.060.000 9,06
b. Belanja Bunga 1.826.532.514 -15,09 2.561.000.000 40,21
c. Belanja Hibah 17.832.100.000 62.779.703.000 252,06 31.004.823.000 -50,61
d. Belanja Bantuan Sosial 36.086.612.160 2,35 14.980.900.000 -58,49 14.980.900.000 0,00
e. Belanja Bantuan keuangan kpd
Prop/Kab/Desa
11.940.148.405 -3,96 10.000.000.000 -16,25 10.000.000.000 0,00
f. Belanja Tidak Terduga 0 1.000.000.000 1.000.000.000
2 Belanja Langsung 323.942.323.001 28,39 351.252.270.325 8,43 252.870.861.000 -28,01
No Uraian 2008 r (%) 2009*) r (%) 2010**) r (%)
a. Belanja Pegawai 46.728.023.554 5,49 39.279.317.198 -15,94
b. Belanja Barang dan Jasa 113.599.623.445 40,65 121.573.933.931 7,02
c. Belanja Modal 163.614.676.002 28,57 190.399.019.196 16,37
Surplus/Defisit - 8.813.690.510 -
69.754.010.365
-16.503.058.000
C Pembiayaan Daerah
1
Penerimaan Pembiayaan Daerah
107.985.294.971 -11,47 75.684.171.365 -29,91
25.750.000.000
-65,98
a. Sisa Lebih Perhitungan Anggaran
Tahun Aggaran sebelumnya
56.773.425.746 19,41 41.665.572.000 -26,61 25.000.000.000 -40,00
b. Penerimaan Pinjaman Daerah dan
Obligasi Daerah
0 33.268.599.365 0 -100
c. Penerimaan Kembali Pemberian
Pinjaman dana bergulir
511.464.325 50.000.000 -90,22 50.000.000 0,00
d. Penerimaan dari Pihak Ketiga 700.404.900 60,84 700.000.000 -0,06 700.000.000 0,00
e. Penerimaan/penarikan Deposito 50.000.000.000 -32,43 0 -100,00
2 Pengeluaran Pembiayaan Daerah 57.080.484.682 -27,14 5.930.161.000 -89,61 9.246.942.365 55,93
a. Penyertaan Modal (Investasi )
Pemerintah Daerah
51.000.000.000 -31,70 195.300.000 -99,62 0 -100
b. Pembayaran Pokok Utang 5.464.188.638 89,67 4.327.161.000 -20,81 7.838.942.365 81,16
c. Pemberian Pinjaman Daerah 450.000.000 -35,71 708.000.000 57,33 708.000.000 0,00
d. Pengembalian kepada Pihak Ketiga 166.296.044 77,36 700.000.000 320,94 700.000.000 0,00
Pembiayaan Netto 50.904.810.289 14,78 69.754.010.365 39,25 16.503.057.635 -76,34
Sisa Lebih/kurang pembiayaan
tahun Berkenaan
42.091.119.779 -25,86 0 -100,00 0
Keterangan :*) Penetapan
**) Prediksi
Sumber: DPPKA Kota Surakarta (2009)
Selasa, 30 Maret 2010
MENGURAI KEKUATAN THE REAL CANDIDATE CALON WALIKOTA SOLO 2010
PENGANTAR
Tinggal menghitung hari pesta demokkrasi pemilihan walikota /wawalikota, dan sudah dipastikan ada tiga pasangan yang akan maju karena nampaknya persyaratan administratif sudah beres semuanya.Bakal calon itu adalah dari imcumbent dan 2 (dua) penantang barunya.Nampaknya cukup menarik untuk diamati pertarungan politik ini,dan pa;ing tidak ada dua pasangan yang benar benar the real candidiate yaitu pasangan incumbent dan pasangan Wirabumi -Supradi,dan tanpa meremehkan pasangan satunya yaitu pifi swartinawati yang sepertinya masih meragukan kekuatannya untuk melawan dua pasangan rivalnya yang memiliki kelebihan dari segala aspeknya.Namun perlu diingat jangan diremehkan pasangan yang nampaknya masih lemah ini bisa jadi garang nantinya,karena kita toh tidak bisa mengitung secara matematis jumlah pendukungnya.
ANALISIS PETA KEKUATAN MASING MASING PASANGAN
A.pasangan incumbent
1.kekuatan
pertama: dari kubu incumbent,peta kekuatannya sudah bisa diprediksi yaitu mereka lebih leluasa menguasai lapangan dan bisa membungkus promosi/kampanye melalui sisa sisa program yang ada untuk menggaet simpatik pemilih.Kedua: incumbent ini notabene adalah akan bertarung dikandang sendiri denga dukungan konsituennya.ketiga: perlu diakui bahwa kinerja selama masa bhaktinya 5 tahun ini memang culup bagus,banyak perubahan yang terjadi dikota solo ini,tidak sedikit infrastruktur yang dibangun,belum lagi program program yang memang dikemas pro rakyat perlu menjadi perhitungan bagi rival rivalnya,contoh PKMS,pe,nagunan fisik dan event event yang cukup memberikan andil terhadap branding kota solo,dan program program lainnya yang masih cukup banyak.kinerja yangbanyak mendapat antusias dari masyarakat ini pasti akan memberikan jaminan tingkat keterpilihannya.Pokoknya incumbent ini cukup kuat positioningnya.
2.kelemahan
se populer populernya incumbentini,justru ada sesuatu yang bisa membuat blunder apabila tidak disikapi dengan komunikasi politik yang baik,tidak dipungkiri bahwa dari program program yang dilakukan selama ini pasti ada pihak pihak yang dirugikan,satu contoh warga relokasi akibat banjir yang membawa ketidak populeran kebijakan incumbent adalah maslah masalah kasus praduga korupsi seperti masalah bantuan hibah PERSIS,Videotron dan beberapa kasus lainnya yang tidak bisa dianggap remeh akan menjadikan.Dan menenurut pengamatan nampaknya orientasi walikota yang penuh dengan obsesi mengenalkan kota solo ke tingkat global banyak menyedot dana dan program programnya kurang ada keberlanjutan dan progres serta outcome kepada kesejahteraan masyarakat.Tujuan menjadikan kota sebagai kota tujuan wisata nyatanya kurang memberikan pengaruh yang signifikan kepada kunjugan wisatawan.Meski event event besar serng digekar,tetapi nampaknya hanya seperti obor blarak atau pasar malam saja.Galabo yang diharapkan menjadi ikon juga belum nampak menggigit juga pasar ngarsopuro serta pembangunan pembanguna fisik lainnya.
Dari segi penampilan APBD juga tidak begitu amat spektakuler,seperti realisasi pajak yang kurang sesuai yang diharapkan,sebagai kota jasa dan tidak sdikit fasilitas pelayanan jasa nyatanya tidak memberikan perolehan PAD yang cukup signifikan.Dan ditambah lagi dalam konsisitennya terhadap reformasi birokrasi juga kurang ditonjolkan,belum isu isu nepotisme yang secara kasat mata bisa diamati,suatu contoh pengangkatan sekretaris daerah yang seperti dipaksakan dan menabrak rambu normatif aturan birokrasi meyeret pada implikasi kecemburuan dari internal birokrasi.
3.peluang
a.politis; masih populer khususnya sosok figur walikotanya (jokowi)
b.support dari jurkam dari pusat khusunya Megawati,menjadi magnet yang cukup sentimental dan memnggugah militansi konsiruennya
c.suistanable pembangunan yang ditawarkan masih memiliki ekspektasi bagi masyarakat
d.bisa memanfaatkan jurkam non formal dai sahabat dari hasil kerjasama antar kota di dunia seperti sister city,ini ada pengaruh psikologis pa;ing tidak apabila bisa dimanfaatkan
4.ancaman
kasus tanah sriwedari,kasus kasus dugaan korupsi dan faktor primordialisme bagaimanapun logis menjadi swbuah ancaman mengingat posisi sang wakil (bukan bermaksud mengarahkan pada hal SARA,tetapi perlu diingat realitas sebagai sebuah negeri islam,ini akan membawa pada sentimen psikis.) .Ancaman ini memang sifatnya subyektif tetapi hal ini tidak bisa diremehkan
B.New comer pasangan WI-Di
Pasangan ini relatif belum dapat dikatakan populer,meskipun sang bakal calon walikotanya dari lingkungan Kraton,sosok ini belum bisa menghipnotis psikis masyarakat dan bagi wakilnya juga bukan dari kalangan poltik yang memiliki konsituen.Namum demikian ibarat bola yang bundar bisa saja pasangan ini tidak bisa diremehkan.Pengalaman seorang birokrat dari sosok wakil paling tidak mempunyai jaminan dan tingkat eletabilitas yang cukup diperhitungkan.Peluang dari pasangan ini adalah pada massa mengambang yang perlu digarap.Baiklah,meski berangkat dari segala keterbatasan dan kekurangan,mari kita mencoba mengurai aspek aspek yang menguntunkan dan aspek yang merugikan bagi pasangan ini
1.kekuatan
- Berangkat dengan kendaraan politik yang cukup kuat yaitu Partai Demokrat dan Partai Golkar,ini posisi bergaining yang tidak bisa diremehkan
- Konon dari segi dana cukup kuat
- Bisa menjadi alternatif pilihan masyarakat,karena sebaik baiknya incumbent tentu ada yang kurang sempurna.
- Sosok Edy Wirobumi ini cukup memilki daya pikat,dan test case lain adalah sang istri yang mampu melenggang di DPR pusat adalah saving bagi sang suaminya.
- Sosok sang wakil yang nota bemne seorang birokrat menjadi pertimbangan alternatif juga....masyarakat sudah mulai cerdas...untuk memilih komposisi jalur politik an jalur birokrat menjadi pilihan baru yang mungkin memiliki harapan adanya penataan birokrasi (khususnya bagi calon pemilih dari birokrat)
2.kelemahan
- belum teruji dalam penyelenggaraan pemerintah,khususya bagi Wirabumi
- pada pemilu legislatif masih dibawah dari PDIP
- belum mengakar dan kurang familiar dengan gras root
- bukan putra daerah
3.peluang
- flooting mass yang masih memungkinkan digarap
- isue primordialisme
- di back up oleh partai penguasa yang cukup kuat
- masuknya Amien Rais cukup memberikan magnet yang cukup kuat untuk menjual pasangan ini,termasuk jurkam jurkam kaliber nasional
- sentimen warga yang tidak terpuaskan/dikecewakan incumbent akan mejadikan pasangan ini menjadi pilihan alternatif
- sentimen para pensiunan yang merasa dikecewakan ketika masij menjabat,akan merapat pada pasangan ini
4.ancaman
- kasus nasional seperti skandal bank century bagaimanapun mengurangi popularitas Partai Demokrat
- implikasi dari isue gurita cekeas,akan mengarah pada penuduhan politik uang
- setimen budaya lingkungan kraton sebagai lingungan feodalisme,ini akan cukup mengganggu kalau di blow up
- kasus kasus yang mendera secara tidak langsung kepada pemerintah pusat(presiden SBY) akan mengurangi ketidak percayaan masyarakat
***.mohon maaf unruk pasangan pifik- swastinawati tidak disampaiakan(tanpa bermaksud meremehkan,tetapi perbandingannya kurang seimbang.untuk dibandingkan
KEMUNGKINAN STRATEGI YANG DITERAPKAN OEH THE REAL CANDIDATE
A.INCUMBENT
1.incumbent akan menawarkan keberlanjutan program yang mereka klaim berhasil
2.membangun terus koalisi dan komunikasi politik khususnya dengan partai islam,hal ini untuk melunturkan isue primordial...
3.strategi dengan cap partai wong cilik tetap dijadikan branded
4.menumpang ke program progamnya yang strategis,karena mereka tidak cuti(masih memegang kekuasaan)
5.tebar pesona
B.PASANGAN WI-DI
1.kritik terhadap program yang gagal selama dijalankan incumbent
2.mencari pilihan pilihan yang memiliki ekspektasi ekonomis bagi kaum miskin
3.isue reformasi birokrasi sebagai ikon kampanye,karena sang wakil adalah seorang birokrat.
4.silahturahmi secara gencar kesemua elemen masyarakat khususnya elemen islam
5.tebar pesona sebagai partai yang akan bisa memberikan akses anggaran dari pemerintah pusat.
catatan: semoga pertarungan ini berjalan fair dan saling menjaga kondusivitas daerah.,siapapun pemenangnya dialah yang memang dipilih rakyatnya.( agustaf ).
Senin, 29 Maret 2010
MUSRENBANGKOT KOTA SURAKARTA 2010 : musyawarah apa pengaminan program
MUSRENBANGKOT KOTA SURAKARTA 2010( musyawarah apa pengaminan sebuah program )
PENGANTAR
Idealnya sebuah musyawarah adalah bergaining politik dalam mengambil suatu kebijakan,se[erti pada musrenbangkot kota surakarta tahun 2010 ,dimana program program yang dibahas adalah tentang program/kegiatan untuk tahun berikutnya.Program program teraebut sudah dijaring dari bawah mulai tingkat kelurahan,kecamatan,kelompok diskusi terbatas dan yang terakhir adalah forum SKPD.Okelah kalau itu memang tahapannya karena sesensinya adalah penjaringan dari bawah dan di sinkronkan dengan program baik itu vsi walikota ,program pemerintah pusat dan pokok pokok pikiran DPRD.Ini adalah formalitasnya dan sayangnya juga hanya formalitas saja.
Pengantar pembukaan yang dilaporkan oleh sekda ,mengatakan /mengindikasikan bahwa forum ini katanya semakin loyo alias tidak atau kurang mendapat respons masyarakat,bahkan konon katanya ini bentuk musyawarah pembangunan yang sudah ke sepuluh kalinya,sebuah fase yang cukup lama seharusnya secara kualitas dan tingkat bergaining position/politik dari forum ini tidak pernah nampak.bahkan masyarakat seperti kecewa dan prustasi ketika sudah sampaipada penampilan APBD,usulan usulan yang digagas lenyap tanpa bekas alias tidak terakomodir dengan alasan dari pemerintah adanya keterbatasan dana atau dianggap kurang prioritas.
Pertanyaannya sekarang apalah artinya perencanaan dari bawah sebagai sebuah wujud konsekuensi demokratisasi dan kepentingan stake holder yang harus dikedepankan.Bahkan sampai mubncul usulan tim pengawalan dan monitoring program yang dilahirkan dari hasil musrenbangkot sampai kini belum pernah disetujui dengan berbagai alasan dari pihak pemkot
EVALUASI MODEL MUSRENBANGKOT
Saya kira betul yang dilaporkan oleh sekda solo itu,bahwa tingkat partisipasi masyarakat semakin menurun terhadap forum semacam ini,danditanggapi walikota bahwa perlu ada model baru dalam forum seperti ini,saya mengamai saja dari jalannya forum itu,dari paparan masing masing bidang selalu ..setujuuu...dan seetuujuuu...terus apa arti dan sensi dari forum musyawarah ini,padahal moment iiadalah moment yang terbuka demokratis dan seharusnya menghasilkan suatu keputusan politik dalam kebijakan penganggaran program kedepan.Tanpa mengurangi rasa hormat kepada para wakil rakyat,mereka bahkan banyak yang meninggalkan forum sebelum selesai,seharusnya mereka mengawak/mengikuti sampai selesai,dan celakanya lagi para kepala SKPD bahkan ada yang pulang dan ketika suatu program unggulan yang disampaikan terdapat tanggapan dari masyarakat tidak ada yang bisa dikonfirmasi.ini sebuah perilaku yang kurang responsif.Saya jiga mencatat beberapa keluhan dari elemen masyarakat/lsm dan ormas yang kecewa ketika forum ini dingin dingin saja dan tidak ada debat.
IMPLIKASI KEDEPAN TERHADAP FENOMENA INI
Reformasi birokrasi yang didalamnya mengedepankan prinsip good government dan good governance tidak akan terwujud dan yang tejadi mungkn tingkat ketidak percayaan masyarakat dan akhirnya apatisme atau mungkin malah mosi tidak percaya.Copba kita tengok dari hasil musrenbangkot yang knon sudah berusia sepuluh tahun ini makin tahun makin merosot kualitasnya (red: diakui sendiri oleh sekdanya),terus ini siapa yang salah,apa masyarakatnya yang apatis apakah pemerintahnya yang tidak konsekuen.data yangada dari APBD hamya berapa persen usulan yang terserap ,sangat kecil dan sangat tidak signifikan.Tingkat hegemoni pemerintah nampaknya masih mendominir dengan beberapa alasan dan anehnya wakil rakyatnya juga tidak responsif.Maka enurut saya ini harus disikapi dengan arif dan dalam benak penguasa konsisiten dalam mendistribusikan kekuasaannya,jamgan memanipulir perencanaan dari bawah ini memnajdi perencanaan yang sentralistik.
OTO KRITIK TEHADAP PROGRAM YANG ADA SEKARANG.
maaf saya menlai banyak program yang terlalu bersemangat untuk membrabding kota,proyek proyek yang cukup menyerap keuangan daerah dan dari proyek itu tidak menghasilkan atau paling tidak memiliki tingkat recovery/bisa membiayai sendiri.contoh pembangunan taman balekambang,memang bagus,tetapi bagaimanaimplikasi pemeliharaan kedepannya,pasti akan menyedot dana yang cukup banyak.Saya memaklumi memang kota solo tidak bisa mengandalkan dari sumber daya alamnya,sehingga sumber daya yang ada adalah sektor jasa.(lihat PDRB).Namun demikian program program yang pro poor juga sebetulnya sudah berjalan,hanya implementasinya kurang mengena pada sasaran,penataan PKL,ternyata masih banyak menyisakan permasalahan.dsb.
Jadi kesimpulannya program program yang dijalankan adalah program dari sebuah obsesi dengan nama manajemen branding yang menyedot banyak dana,tetapi out come dari branding ini belum cukup signifikan,contohnya tngkat kedatangan wisatawan (yang seharusnya kita tidak terlalu jauh dibandingkan dengan yogya,apalagi potensinya hampit sama)
NASIB PERENCANAAN DARI BAWAH YANG TERBAWAHKAN
Kembali kepada hasil forum bottom up yang mboten up ini apalagi sudah berumur sepuluh tahun,masih begitu begitu saja dan saya mengamati ada semacam apatisme dari masyarakat akan forum yang sebenarnya memiliki kekuatan politik yang real.Unruk itu mari kita tata kembali dengan komitmen baru yang konsekuen bahwa yang seharusnya idealny.a prporsi anggaran itu lebih besar dari hasil rumusan musrenbangkot.inilah yang sebenarnya diesebut the real good governance.(catatanku)maret 2010.
Minggu, 28 Maret 2010
MENYIMAK DEBAT BAKAL CALON WALIKOTA/WAWALI KOTA SOLO,DI SOLOPOS FM
KRITIK PERTAMA SAYA ADALAH SIARAN DARI DARI RADIONYA ,KURANG BAGUS,SUARA TIDAK JERNIH,TAPI MUNGKIN KALAU YANG LAIN BAGUS YA RADIO SAYA YANG KURANG BAGUS>JADI KURANG BISA JELAS UNTUK DIDENGAR JUGA GAK NYAMAN...OK YA SUDAHLAH..SEKARANG YANG PENTING KITA COBA REVIEW KENBALI HASIL DEBAT TERSEBUT.
KURANG KONSENTRASI PADA PERTANYAAN PANELIS
SEBETULNYA DARI BEBERAPA PERTANYAAN PANELIS,MASING MASING BAKAL CALON BISA MENAGKAP ISU YANG PALING KRUSIAL DAN BISA MEMBERIKAN HARAPAN ATAU EKSPEKTASI MASYARAKAT AKAN PERUBAHAN KEDEPAN.DIMULAI DARI PERTANYAN TENTANG ISU GOOD GOVERNMENT DAN GOOD GOVERNANCE.DARI SANA SAJA BANYAK BAKAL CALON YANG KURANG MEMAHAMI APA ESENSI DARI KEDUA KONSEP TERSEBUT.PERLU DIKETAHUI BAHWA DARI KEDUA KONSEP ITU ADA YANG MEMBEDAKAN SECARA PRINSPIIL,KEMUDIAN BAGAIMANA AKAN DI IMPLEMETASIKAN.SEHINGGA MENURUT SAYA KALAU DARI KEDUA HAL TERSEBUT SUDAH KACAU BALAU DAN LUCU.MAAF KITA MULAI DARI PASANGAN PIFIK DAN SWATINAWATI BAHKAN AGAK BELEPOTAN DAN SEPERTINYA KURANG FAMILIAR DENGAN ISTILAHNYA SAJA,AKIBATNYA SUBSTANSINYA TIDAK KENA.PASANGAN BERIKUTNYA WI DI,HANYA TERMINILOGI TERMINOLOGI ,MESKI MAMPU SEDIKIT KRITIK TERHADAP HASIL YANG SELAMA INI DIBANGUN INCUMBENT,YAITU TENTANG MASIH BANYAKNYA PENGANGGURAN DAN KEMISKINAN,PADAHAL SEBETULNYA MASIH BANYAK ISU YANG LEBIH TAJAM UNTUK MENYERANG/KRITIK KEPADA INCUMBENT SEPERTI ISU REFORMASI BIROKRASI.KEMUDIAN GILIRAN INCUMBENT YANG NOTABENE LEBIH DAHULU MENGENAL LAPANGAN,TAPI JUSTRU YANG DISODORKAN ATAU DIPAMERKAN KEBERHASILAN YANG KURANG MENGGIGIT,SEPERTI PELAYANAN KTP SATU PINTU,DAN DITAMBAH LAGI GRAND STRATEGY YANG DIA ISTILAHKAN DENGAN MANAJEMEN PRODUK,BRANDING DAN CUSTOMERS...HAL INI OKE OKE SAJA,TAPI INI KURANG COCOK KALAU UNTUK MENGATASI PERMASALAHAN PUBLIK..PERSEPSINYA HANYA SEPERTI BISNIS SWASTA SAJA.
PADAHAL PROGRAM PROGRAM YANG PRO POOR MESTINYA DIMUNCULKAN.SEHINGA KETIKA SELESAISESI PENYAMPAIAN KONSEP YANG WAKTUNYA JUGA SANGA MEMPET ITU MEMBUAT KECEWANYA PARA PENANYA,SEPERTI MENGAPA ISU REFORMASI BIROKRASI,ISU KORUPSI ATAU ISU BIROKRASI YANG TRANSPARAN KURANG BAHKAN TIDAK MUNCUL SAMA SEKALI.DI INDONESIA INI JUGA DIDAERAH,MASALAH MAFIA MAFIANAN SEDANG MARAK MARAKNYA,MAKA SEHARUSNY BISA EMPATY KESANA.INGAT RAKYAT ITU MAU DAN TAHUNYA ADALAH THE REAL PROGRAM YANG BETUL BETUL MENYENTUH KEPENTINGANNYA...SEHINGGA SEMULA VISI DAN MISI YANG DITUNGGU,TAPI YANG KITA RASAKAN HANYA SEBUAH OBSESI DAN ISU YANG DISAMPAIKAN ITU SUDAH KLASIK DAN SEBENARNYA RAKYAT SDAH TIDAK PERCAYA LAGI.
IDENTIFIKASI LINGKUNGAN STRATEGIS SANGAT PERLU
KANDIDAT ITU HARUSNYA SUDAH BISA MENJARING LINGKUNGAN STRATEGIS YANG BISA DIPAHAMI DAN DIBUTUHKASN RAKYAT...BERANGKAT DARI SANA MUNCULKAN INDIKASI PROGRAM PROGRAM STRATEGIS YANG PRO RAKYAT...KITA MASIH BERANGKAT DARI NOL SEBENARNYA,PEMBANGUNAN FISIK YG SEKARANG SUDAH ADA JANGAN TERLALU DIBANGGAKAN,KALAU MENURUT SAYA PROYEK PROYEK FISI YANG ADA SEKARANG INI BANYA K YANG TIDAK RECOVERY,IMPLIKASINYA APA ???..KEDEPAN KALAU APBD MASIH SEPERTI INI PENAMPILANNYA JUSRU AKAN MEMBERATKAN.
OKE ,KALAU DEBAT KEMARIN MASIH DIANGGAP PEMANASAN,DEBAT ATAU LEWAT KAMPANYENYA NANTI,BERIKAN JANJI YANG BENAR BENAR REAL.DAN BAGI INCUMBENT SAYA MENGKRITIK,BANYAK KEBIJAKAN YANG TIDAK DILALUI DENGAN KAJIAN DAN PROSES YANG PARTISIPATIF,BANYAK PROYEK PROYEK YANG ASAL NYONTEK DARI NEGERI LAIN YANG SUDAH JELAS BEDA DARI BBERAPA ASPEK,SEPERTI BUDAYA MASYARAKAT,CONTOH CITY WORK DSB...NTAYATANYA PKL MASIH MARAK DISANA,APALAGI RENCANA BRT...COBA SAJA..TUJUAN MOVE PEOPLE NOT CAR,SAYA BERANI BERTARUH TAK AKAN BERHASIL,DAN JUSTRU AKAN MENAMBAH KEMACETAN.BUDYA SLOGAN TADI ITU PERLU PEMBUDAYAAN,DAN YANG LEBIH PENTING ADALAH IMPLIKASI EKONOMI POLITIKNYA
PEESAN BAGI RIVAL INCUMBENT
KENALI SNGGUH PROBLEMATIK YANG REAL TENTANG SOLO YANG TENTUMYA ADALAH YANG BERPIHAK PADA KESEJAHTERAAN RAKYAT....ITU DULU,NANTI AKAN SECARA OTOMATIS AKAN ADA MULTIPIER EFFECTNYA...WUJUDKAN EKSPEKTASI BAGI MASYARAKAT SECARA EKONOMI.TUMBUHKA DAN BUDAYAKAN EKONOMI KREATIF TERHADAP RAKYAT YANG DI INTERVENSI OLEH KEBIJAKAN PEMERINTAH....TINGGALLKAN MEMANJAKAN MASYARAKAT YANG SEBENARNYA JUSTRU TIDAK MENDIDIK UNTUK KERJA KERAS.
MAMANJEMEN BRANDING ITU HARUS BERJAKLAN BESAMAAN DENGAN KONDISI YANG AKAN DI BRAND .OUTPUTNYA SEHARUSNYA SUDAH MENGARAH PADA POSITIONINGNYA,SEPERTYI YOGYA,BALI DSB.AMIEN.
KURANG KONSENTRASI PADA PERTANYAAN PANELIS
SEBETULNYA DARI BEBERAPA PERTANYAAN PANELIS,MASING MASING BAKAL CALON BISA MENAGKAP ISU YANG PALING KRUSIAL DAN BISA MEMBERIKAN HARAPAN ATAU EKSPEKTASI MASYARAKAT AKAN PERUBAHAN KEDEPAN.DIMULAI DARI PERTANYAN TENTANG ISU GOOD GOVERNMENT DAN GOOD GOVERNANCE.DARI SANA SAJA BANYAK BAKAL CALON YANG KURANG MEMAHAMI APA ESENSI DARI KEDUA KONSEP TERSEBUT.PERLU DIKETAHUI BAHWA DARI KEDUA KONSEP ITU ADA YANG MEMBEDAKAN SECARA PRINSPIIL,KEMUDIAN BAGAIMANA AKAN DI IMPLEMETASIKAN.SEHINGGA MENURUT SAYA KALAU DARI KEDUA HAL TERSEBUT SUDAH KACAU BALAU DAN LUCU.MAAF KITA MULAI DARI PASANGAN PIFIK DAN SWATINAWATI BAHKAN AGAK BELEPOTAN DAN SEPERTINYA KURANG FAMILIAR DENGAN ISTILAHNYA SAJA,AKIBATNYA SUBSTANSINYA TIDAK KENA.PASANGAN BERIKUTNYA WI DI,HANYA TERMINILOGI TERMINOLOGI ,MESKI MAMPU SEDIKIT KRITIK TERHADAP HASIL YANG SELAMA INI DIBANGUN INCUMBENT,YAITU TENTANG MASIH BANYAKNYA PENGANGGURAN DAN KEMISKINAN,PADAHAL SEBETULNYA MASIH BANYAK ISU YANG LEBIH TAJAM UNTUK MENYERANG/KRITIK KEPADA INCUMBENT SEPERTI ISU REFORMASI BIROKRASI.KEMUDIAN GILIRAN INCUMBENT YANG NOTABENE LEBIH DAHULU MENGENAL LAPANGAN,TAPI JUSTRU YANG DISODORKAN ATAU DIPAMERKAN KEBERHASILAN YANG KURANG MENGGIGIT,SEPERTI PELAYANAN KTP SATU PINTU,DAN DITAMBAH LAGI GRAND STRATEGY YANG DIA ISTILAHKAN DENGAN MANAJEMEN PRODUK,BRANDING DAN CUSTOMERS...HAL INI OKE OKE SAJA,TAPI INI KURANG COCOK KALAU UNTUK MENGATASI PERMASALAHAN PUBLIK..PERSEPSINYA HANYA SEPERTI BISNIS SWASTA SAJA.
PADAHAL PROGRAM PROGRAM YANG PRO POOR MESTINYA DIMUNCULKAN.SEHINGA KETIKA SELESAISESI PENYAMPAIAN KONSEP YANG WAKTUNYA JUGA SANGA MEMPET ITU MEMBUAT KECEWANYA PARA PENANYA,SEPERTI MENGAPA ISU REFORMASI BIROKRASI,ISU KORUPSI ATAU ISU BIROKRASI YANG TRANSPARAN KURANG BAHKAN TIDAK MUNCUL SAMA SEKALI.DI INDONESIA INI JUGA DIDAERAH,MASALAH MAFIA MAFIANAN SEDANG MARAK MARAKNYA,MAKA SEHARUSNY BISA EMPATY KESANA.INGAT RAKYAT ITU MAU DAN TAHUNYA ADALAH THE REAL PROGRAM YANG BETUL BETUL MENYENTUH KEPENTINGANNYA...SEHINGGA SEMULA VISI DAN MISI YANG DITUNGGU,TAPI YANG KITA RASAKAN HANYA SEBUAH OBSESI DAN ISU YANG DISAMPAIKAN ITU SUDAH KLASIK DAN SEBENARNYA RAKYAT SDAH TIDAK PERCAYA LAGI.
IDENTIFIKASI LINGKUNGAN STRATEGIS SANGAT PERLU
KANDIDAT ITU HARUSNYA SUDAH BISA MENJARING LINGKUNGAN STRATEGIS YANG BISA DIPAHAMI DAN DIBUTUHKASN RAKYAT...BERANGKAT DARI SANA MUNCULKAN INDIKASI PROGRAM PROGRAM STRATEGIS YANG PRO RAKYAT...KITA MASIH BERANGKAT DARI NOL SEBENARNYA,PEMBANGUNAN FISIK YG SEKARANG SUDAH ADA JANGAN TERLALU DIBANGGAKAN,KALAU MENURUT SAYA PROYEK PROYEK FISI YANG ADA SEKARANG INI BANYA K YANG TIDAK RECOVERY,IMPLIKASINYA APA ???..KEDEPAN KALAU APBD MASIH SEPERTI INI PENAMPILANNYA JUSRU AKAN MEMBERATKAN.
OKE ,KALAU DEBAT KEMARIN MASIH DIANGGAP PEMANASAN,DEBAT ATAU LEWAT KAMPANYENYA NANTI,BERIKAN JANJI YANG BENAR BENAR REAL.DAN BAGI INCUMBENT SAYA MENGKRITIK,BANYAK KEBIJAKAN YANG TIDAK DILALUI DENGAN KAJIAN DAN PROSES YANG PARTISIPATIF,BANYAK PROYEK PROYEK YANG ASAL NYONTEK DARI NEGERI LAIN YANG SUDAH JELAS BEDA DARI BBERAPA ASPEK,SEPERTI BUDAYA MASYARAKAT,CONTOH CITY WORK DSB...NTAYATANYA PKL MASIH MARAK DISANA,APALAGI RENCANA BRT...COBA SAJA..TUJUAN MOVE PEOPLE NOT CAR,SAYA BERANI BERTARUH TAK AKAN BERHASIL,DAN JUSTRU AKAN MENAMBAH KEMACETAN.BUDYA SLOGAN TADI ITU PERLU PEMBUDAYAAN,DAN YANG LEBIH PENTING ADALAH IMPLIKASI EKONOMI POLITIKNYA
PEESAN BAGI RIVAL INCUMBENT
KENALI SNGGUH PROBLEMATIK YANG REAL TENTANG SOLO YANG TENTUMYA ADALAH YANG BERPIHAK PADA KESEJAHTERAAN RAKYAT....ITU DULU,NANTI AKAN SECARA OTOMATIS AKAN ADA MULTIPIER EFFECTNYA...WUJUDKAN EKSPEKTASI BAGI MASYARAKAT SECARA EKONOMI.TUMBUHKA DAN BUDAYAKAN EKONOMI KREATIF TERHADAP RAKYAT YANG DI INTERVENSI OLEH KEBIJAKAN PEMERINTAH....TINGGALLKAN MEMANJAKAN MASYARAKAT YANG SEBENARNYA JUSTRU TIDAK MENDIDIK UNTUK KERJA KERAS.
MAMANJEMEN BRANDING ITU HARUS BERJAKLAN BESAMAAN DENGAN KONDISI YANG AKAN DI BRAND .OUTPUTNYA SEHARUSNYA SUDAH MENGARAH PADA POSITIONINGNYA,SEPERTYI YOGYA,BALI DSB.AMIEN.
Jumat, 19 Maret 2010
ACFTA : antara wisnu dan durga
PERDAGANGAN bebas, pasar bebas dan atau globalisasi ASEAN-China (melalui ACFTA) merupakan keniscayaan, ketika dunia sepakat untuk memberlakukan perdagangan tanpa sekat. Sebelum diberlakukan untuk seluruh dunia, China dan negara-negara ASEAN ”menjajal”-nya di tingkat ”regional” mulai awal tahun ini.
Sudah dua bulan lebih ACFTA berjalan dengan bermacam reaksi di kalangan masyarakat. Di Bali, perajin dupa (alat kelengkapan ibadah) mengeluh karena masuknya dupa dari China. Di Pasar Tanah Abang Jakarta ada sweeping kain produk China. Di Yogyakarta, pejabat Dinas Perdagangan mengisyaratkan agar masyarakat pedagang dan petani meningkatkan kualitas produknya agar dapat bersaing dengan produk-produk China, termasuk buah-buahan.
Sebuah stasiun televisi pada Januari lalu memberitakan, eksistensi industri kecil dupa di Bali terancam karena masuknya dupa dari China. Pangsa pasar industri itu bagi pengusaha di Bali cukup jelas, mapan, besar, dan kontinu, karena dupa merupakan kebutuhan dan bagian dari peribadatan sebagian besar masyarakat Bali. Satu indikator sederhananya, impor dupa China tidak mungkin dalam partai kecil. Karenanya, sangat mungkin pada saatnya nanti kebutuhan dupa di Bali akan terpenuhi oleh dupa impor. Jadilah usaha lokal tersisishkan karena dupa impor (seperti umumnya komoditas lain) lebih berkualitas, lebih murah, karena dengan pasar bebas, bebas pula bea masuk untuk komoditi tertentu ke negara lain.
Masa depan dupa di Bali dan geliat reaksi setempat merupakan titik kecil dari potret perekonomian Indonesia di era pasar bebas dan globalisasi. Tentu banyak lagi potret buram lain kini dan ke depan. Mungkin makin banyak gambaran ”dupa China di Bali” terkait dengan komoditas lain di tempat lain di Tanah Air. Pasar bebas tidak lebih sebagai pintu masuk upaya ”legalisasi penjajahan dan dapat masuknya dengan mudah dan murah” negara-negara besar yang sangat berkepentingan untuk ”memasarkan” hasil industrinya ke negara lain.
Prof Sri-Edi Swasono memperingatkan, pasar bebas dan globalisasi adalah tantangan sekaligus kesempatan. Globalisasi harus dihadapi. Kita harus ikut mendesainnya, namun bangsa ini harus kuat, kelembagaan ekonomi masyarakat juga harus tangguh, karena yang terjadi saat ini sarat dengan kepentingan ekonomi. Dengan cara apapun, dan beragam instrumen pendekatan dipergunakan untuk menggolkan tujuan dagangnya.
Kalau bangsa ini lemah, globalisasi ekonomi semakin berpotensi untuk memperlebar kesenjangan, bahkan polarisasi ekonomi. Kondisi yang terjadi kemudian adalah dependensi (kebergantungan), baik antarnegara maupun sesama anggota masyarakat. Hal itu bepotensi besar menjadi pintu masuk kolonialisasi, baik terhadap individu maupun negara. Memang sangat memprihatinkan, dengan globalisasi dan pasar bebas perekonomian bangsa ini telah menjadi liberal. Terkesan pemerintah terbawa arus dan menyerah pada neoliberalisme sebagai representasi kapitalisme dan imperialisme baru.
”Dupa Bali” mestinya menyadarkan, sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat kita tengah bergelut dalam percaturan budaya global. Kehidupan berbangsa tengah diuji.
Mestinya, untuk bisa berperan dalam globalisasi perdagangan, harus mempersiapkan diri, bukan hanya bereaksi ketika dampaknya sudah mulai terasakan bagi perdagangan dalam negeri. Karena globalisasi tidak dapat dihindari dan harus dihadapi, seharusnya kita aktif mempersiapkan diri, bukan reaktif dan menyalahkan orang lain.
Wisnu dan Durga Mengomentari perjalanan globalisasi dan pasar bebas ala Adam Smith, Prof Herman Soewardi mengemukakan, banyak yang kecele, karena teori Bapak Ilmu Ekonomi itu diharapkan melahirkan Wisnu (tokoh wayang berperangai baik yang bertugas antara lain memelihara keseimbangan alam), ternyata pasar bebasnya Smith yang diharapkan juga menjadi sang pengatur (the invisible hand) malah melahirkan Durga (Batari Durga adalah tokoh pewayangan yang menjadi idola bagi mereka yang suka mengambil jalan pintas).
Sementara Sri-Edi Swasono menyebut Smith sebagai pemimpi besar, karena pasar sempurna (yang diharapkan mampu mengatur pasar) sebagai syarat beroperasinya pasar bebas dengan baik, tidak pernah lahir sampai sekarang meskipun ”mimpi” itu telah lebih dari 250 tahun (Swasono, 2005). Kalau saja Adam Smith masih hidup dan menyaksikan apa yang terjadi sekarang, bisa jadi dia akan lebih kecele dan (mungkin) merasa sangat bersalah karena ternyata teorinya itu bakal menyengsarakan banyak orang di berbagi negara yang kalah bersaing dalam menghadapi globalisasi karena tidak mampu bersaing dalam pasar bebas.
Globalisasi sebagai suatu proses atau gejala mengglobal atau proses menjangkau dan merambat ke seluruh dunia, sebenarnya bukan hal baru berkaitan dengan bidang ekonomi. Ketika terjadi kolonialisasi Barat terhadap bangsa-bangsa Asia dan Afrika empat abad silam, globalisasi juga sudah terjadi, khususnya di bidang budaya. Gejala mendunianya budaya Barat ini bukan hanya diperkenalkan, tetapi juga dipaksakan kepada bangsa terjajah.
Pasar bebas dan globalisasi di zaman modern ini sebenarnya tidak berbeda dari era kolonialisasi itu. Kalau dahulu penjajahan dilakukan dengan pendudukan dan penundukan nyata terhadap suatu negara oleh negara lain ”yang merasa lebih perkasa”, maka kolonialisasi modern tidak perlu pendudukan fisik, tetapi akibatnya bisa jadi lebih parah, yang sejatinya adalah pemunculan kembali sistem ekonomi kapitalis (neoliberalisme).
Nafsu menjajah (baik model kuno maupun modern) yang sejatinya berintikan keserakahan akan selalu ada dan terjadi oleh negara-negara besar dan kuat yang ingin selalu mendominasi, mendikte bangsa-bangsa lain yang lebih kecil dan lemah. Semua itu dilakukan untuk menciptakan ketergantungan, bukan saling bergantung untuk membangun kebersamaan. Efek ekonomi global inilah, menurut Faisal Baasir (2004) menciptakan bentuk kompetisi ekonomi yang menggiring munculnya economized, sebuah dunia yang tidak ramah, tidak demokratis, dan tidak manusiawi demi memenuhi ambisi dan produktivitas yang lebih tinggi.
Untuk memenangkan penjajahan modern ini dipergunakan senjata canggih berupa penetrasi kesadaran umat manusia dengan beberapa instrumen pendekatan, seperti liberalisasi perdagangan dan investasi yang seolah-olah memberikan kesan persamaan kesempatan maupun hak, isu-isu demokrasi, hak asasi manusia, isu lingkungan hidup, hak paten serta seabrek nilai dan jargon-jargon (yang terkesan) penuh pesan moral dan egaliter.
Semangat kapitalisme itu akan dirasa menjadi legal dan wajar ketika semuanya dikemas dengan berlindung dalam konsep moral berdasar kebebasan hak. Ketika kebebasan hak dijadikan topeng tindakan, sekalipun tidak mengindahkan kemampuan yang berbeda pada pihak lain yang bersaing, seakan-akan menjadi sesuatu yang ”halal-halal” saja dilakukan. Dupa Bali adalah gambaran awal bakal lahirnya persaingan bebas yang memaksa seseorang untuk hidup berekonomi yang dilaksanakan dengan bersaing untuk dapat bertahan hidup dan semata-mata meraih keuntungan ekonomi,meskipun harus mengabaikan nilai-nilai lain, termasuk nilai-nilai Ilahiyah maupun sosial.
Pada sisi inilah, menurut Iraj Toutounchian (2009), semangat dan prinsip dasar kapitalisme semakin kelihatan. Karena prinsip dasar kapitalisme menurutnya adalah mementingkan diri sendiri yang serasi dengan philosophy of individualism. Nilai dasar manusia dalam konsep kapitalis adalah tidak pernah merasa puas dengan apa yang telah didapatkan dan dimilikinya, keserakahan yang tidak terkendali dan mementingkan diri sendiri. Ketiganya selalu berjalan bersamaan.
Dupa Bali adalah gambaran ekonomi persaingan dan perdagangan bebas yang mengajarkan ekonomi peperangan, free fight dengan pelaku homo economicus untuk memasuki kehidupan brekonomi dengan tensi tinggi. Gong perdagangan bebas ASEAN-China sudah ditabuh per 1 Januari. Hanya ada dua pilihan; hanyut atau melawan. Kalau mau hanyut, ikutlah tanpa melawan karena perlawanan hanya akan terjadi setengah hati. Melawan berarti ditantang untuk hidup, mencari jalan lain agar tetap eksis, dicambuk untuk mencari sistem ekonomi lain. Bukankah masih ada sistem ekonomi Islam (di samping sistem lain) yang memiliki visi, misi, dan filosofi yang berbeda. Sistem ini diharapkan akan menjadi sebuah peradaban dan menjadi besar pada masa depan, tentu ketika ada komunitas kecil yang memulai.(10)
— Drs H Imam Munadjat, SH, MS, staf pengajar Unissula Semarang, mahasiswa S3 Program Studi Ekonomi Islam Unair Surabaya
Sudah dua bulan lebih ACFTA berjalan dengan bermacam reaksi di kalangan masyarakat. Di Bali, perajin dupa (alat kelengkapan ibadah) mengeluh karena masuknya dupa dari China. Di Pasar Tanah Abang Jakarta ada sweeping kain produk China. Di Yogyakarta, pejabat Dinas Perdagangan mengisyaratkan agar masyarakat pedagang dan petani meningkatkan kualitas produknya agar dapat bersaing dengan produk-produk China, termasuk buah-buahan.
Sebuah stasiun televisi pada Januari lalu memberitakan, eksistensi industri kecil dupa di Bali terancam karena masuknya dupa dari China. Pangsa pasar industri itu bagi pengusaha di Bali cukup jelas, mapan, besar, dan kontinu, karena dupa merupakan kebutuhan dan bagian dari peribadatan sebagian besar masyarakat Bali. Satu indikator sederhananya, impor dupa China tidak mungkin dalam partai kecil. Karenanya, sangat mungkin pada saatnya nanti kebutuhan dupa di Bali akan terpenuhi oleh dupa impor. Jadilah usaha lokal tersisishkan karena dupa impor (seperti umumnya komoditas lain) lebih berkualitas, lebih murah, karena dengan pasar bebas, bebas pula bea masuk untuk komoditi tertentu ke negara lain.
Masa depan dupa di Bali dan geliat reaksi setempat merupakan titik kecil dari potret perekonomian Indonesia di era pasar bebas dan globalisasi. Tentu banyak lagi potret buram lain kini dan ke depan. Mungkin makin banyak gambaran ”dupa China di Bali” terkait dengan komoditas lain di tempat lain di Tanah Air. Pasar bebas tidak lebih sebagai pintu masuk upaya ”legalisasi penjajahan dan dapat masuknya dengan mudah dan murah” negara-negara besar yang sangat berkepentingan untuk ”memasarkan” hasil industrinya ke negara lain.
Prof Sri-Edi Swasono memperingatkan, pasar bebas dan globalisasi adalah tantangan sekaligus kesempatan. Globalisasi harus dihadapi. Kita harus ikut mendesainnya, namun bangsa ini harus kuat, kelembagaan ekonomi masyarakat juga harus tangguh, karena yang terjadi saat ini sarat dengan kepentingan ekonomi. Dengan cara apapun, dan beragam instrumen pendekatan dipergunakan untuk menggolkan tujuan dagangnya.
Kalau bangsa ini lemah, globalisasi ekonomi semakin berpotensi untuk memperlebar kesenjangan, bahkan polarisasi ekonomi. Kondisi yang terjadi kemudian adalah dependensi (kebergantungan), baik antarnegara maupun sesama anggota masyarakat. Hal itu bepotensi besar menjadi pintu masuk kolonialisasi, baik terhadap individu maupun negara. Memang sangat memprihatinkan, dengan globalisasi dan pasar bebas perekonomian bangsa ini telah menjadi liberal. Terkesan pemerintah terbawa arus dan menyerah pada neoliberalisme sebagai representasi kapitalisme dan imperialisme baru.
”Dupa Bali” mestinya menyadarkan, sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat kita tengah bergelut dalam percaturan budaya global. Kehidupan berbangsa tengah diuji.
Mestinya, untuk bisa berperan dalam globalisasi perdagangan, harus mempersiapkan diri, bukan hanya bereaksi ketika dampaknya sudah mulai terasakan bagi perdagangan dalam negeri. Karena globalisasi tidak dapat dihindari dan harus dihadapi, seharusnya kita aktif mempersiapkan diri, bukan reaktif dan menyalahkan orang lain.
Wisnu dan Durga Mengomentari perjalanan globalisasi dan pasar bebas ala Adam Smith, Prof Herman Soewardi mengemukakan, banyak yang kecele, karena teori Bapak Ilmu Ekonomi itu diharapkan melahirkan Wisnu (tokoh wayang berperangai baik yang bertugas antara lain memelihara keseimbangan alam), ternyata pasar bebasnya Smith yang diharapkan juga menjadi sang pengatur (the invisible hand) malah melahirkan Durga (Batari Durga adalah tokoh pewayangan yang menjadi idola bagi mereka yang suka mengambil jalan pintas).
Sementara Sri-Edi Swasono menyebut Smith sebagai pemimpi besar, karena pasar sempurna (yang diharapkan mampu mengatur pasar) sebagai syarat beroperasinya pasar bebas dengan baik, tidak pernah lahir sampai sekarang meskipun ”mimpi” itu telah lebih dari 250 tahun (Swasono, 2005). Kalau saja Adam Smith masih hidup dan menyaksikan apa yang terjadi sekarang, bisa jadi dia akan lebih kecele dan (mungkin) merasa sangat bersalah karena ternyata teorinya itu bakal menyengsarakan banyak orang di berbagi negara yang kalah bersaing dalam menghadapi globalisasi karena tidak mampu bersaing dalam pasar bebas.
Globalisasi sebagai suatu proses atau gejala mengglobal atau proses menjangkau dan merambat ke seluruh dunia, sebenarnya bukan hal baru berkaitan dengan bidang ekonomi. Ketika terjadi kolonialisasi Barat terhadap bangsa-bangsa Asia dan Afrika empat abad silam, globalisasi juga sudah terjadi, khususnya di bidang budaya. Gejala mendunianya budaya Barat ini bukan hanya diperkenalkan, tetapi juga dipaksakan kepada bangsa terjajah.
Pasar bebas dan globalisasi di zaman modern ini sebenarnya tidak berbeda dari era kolonialisasi itu. Kalau dahulu penjajahan dilakukan dengan pendudukan dan penundukan nyata terhadap suatu negara oleh negara lain ”yang merasa lebih perkasa”, maka kolonialisasi modern tidak perlu pendudukan fisik, tetapi akibatnya bisa jadi lebih parah, yang sejatinya adalah pemunculan kembali sistem ekonomi kapitalis (neoliberalisme).
Nafsu menjajah (baik model kuno maupun modern) yang sejatinya berintikan keserakahan akan selalu ada dan terjadi oleh negara-negara besar dan kuat yang ingin selalu mendominasi, mendikte bangsa-bangsa lain yang lebih kecil dan lemah. Semua itu dilakukan untuk menciptakan ketergantungan, bukan saling bergantung untuk membangun kebersamaan. Efek ekonomi global inilah, menurut Faisal Baasir (2004) menciptakan bentuk kompetisi ekonomi yang menggiring munculnya economized, sebuah dunia yang tidak ramah, tidak demokratis, dan tidak manusiawi demi memenuhi ambisi dan produktivitas yang lebih tinggi.
Untuk memenangkan penjajahan modern ini dipergunakan senjata canggih berupa penetrasi kesadaran umat manusia dengan beberapa instrumen pendekatan, seperti liberalisasi perdagangan dan investasi yang seolah-olah memberikan kesan persamaan kesempatan maupun hak, isu-isu demokrasi, hak asasi manusia, isu lingkungan hidup, hak paten serta seabrek nilai dan jargon-jargon (yang terkesan) penuh pesan moral dan egaliter.
Semangat kapitalisme itu akan dirasa menjadi legal dan wajar ketika semuanya dikemas dengan berlindung dalam konsep moral berdasar kebebasan hak. Ketika kebebasan hak dijadikan topeng tindakan, sekalipun tidak mengindahkan kemampuan yang berbeda pada pihak lain yang bersaing, seakan-akan menjadi sesuatu yang ”halal-halal” saja dilakukan. Dupa Bali adalah gambaran awal bakal lahirnya persaingan bebas yang memaksa seseorang untuk hidup berekonomi yang dilaksanakan dengan bersaing untuk dapat bertahan hidup dan semata-mata meraih keuntungan ekonomi,meskipun harus mengabaikan nilai-nilai lain, termasuk nilai-nilai Ilahiyah maupun sosial.
Pada sisi inilah, menurut Iraj Toutounchian (2009), semangat dan prinsip dasar kapitalisme semakin kelihatan. Karena prinsip dasar kapitalisme menurutnya adalah mementingkan diri sendiri yang serasi dengan philosophy of individualism. Nilai dasar manusia dalam konsep kapitalis adalah tidak pernah merasa puas dengan apa yang telah didapatkan dan dimilikinya, keserakahan yang tidak terkendali dan mementingkan diri sendiri. Ketiganya selalu berjalan bersamaan.
Dupa Bali adalah gambaran ekonomi persaingan dan perdagangan bebas yang mengajarkan ekonomi peperangan, free fight dengan pelaku homo economicus untuk memasuki kehidupan brekonomi dengan tensi tinggi. Gong perdagangan bebas ASEAN-China sudah ditabuh per 1 Januari. Hanya ada dua pilihan; hanyut atau melawan. Kalau mau hanyut, ikutlah tanpa melawan karena perlawanan hanya akan terjadi setengah hati. Melawan berarti ditantang untuk hidup, mencari jalan lain agar tetap eksis, dicambuk untuk mencari sistem ekonomi lain. Bukankah masih ada sistem ekonomi Islam (di samping sistem lain) yang memiliki visi, misi, dan filosofi yang berbeda. Sistem ini diharapkan akan menjadi sebuah peradaban dan menjadi besar pada masa depan, tentu ketika ada komunitas kecil yang memulai.(10)
— Drs H Imam Munadjat, SH, MS, staf pengajar Unissula Semarang, mahasiswa S3 Program Studi Ekonomi Islam Unair Surabaya
Kamis, 18 Maret 2010
Anjing anjing gedongan
Hayo siapa brani sama aku ....apalagi kamu bawa heroin,jangan coba coba luh...gue sedot sampek semper lah...
Langganan:
Postingan (Atom)
